Siang
itu, Maura sedang duduk di pinggiran geladak bersama dengan sahabatnya, Gisha.
Mereka berdua sedang termenung bersama. Entah apa yang ada di pikiran mereka
berdua, tapi yang jelas, mereka sibuk berkutik dengan pikiran mereka
masing-masing. Tak lama waktu beselang, Gisha memecah keheningan dan membuka
pembicaraan. “Maura, sudah dari tadi kita berada disini, sebaiknya kita pulang
saja yuk, lagipula, hari hampir malam..”
Gisha mulai bosan, ia lalu mengajak maura untuk pulang karena hari memang
hampir malam. “Tidak Gisha, aku ingin tetap disini, aku tak ingin pulang, aku
masih betah. Jika kau ingin pulang, pulang sajalah dulu. Aku akan baik-baik
saja..” Maura menolak ajakan Gisha, bagaimana mungkin ia meninggalkan sahabatnya
sendirian disini?. “ayolah maura, aku tak mungkin meninggalkanmu disini,
lagipula kalau aku meninggalkanmu disini, aku akan dimarahi bundamu..” bujuk Gisha agar maura mau pulang besamanya.
Tapi sepertinya maura tak mau pulang, ia masih kekeuh ingin tinggal lebih lama
di hamparan pasir putih ini. “tak apa gisha, bundaku tak akan marah padamu.”
Maura mungkin sedang ingin sendiri. Ia
ingin merasakan damainya ombak malam memecah sunyi. “Baiklah, aku pulang dulu,
jangan terlalu lama disini maura, angin malam tak baik untuk kesehatanmu.”
Gisha sedikit menasehati Maura. Memang begitulah Gisha, ia adalah sahabat yang
paling mengerti Maura .
..Dirimu duduk memeluk lutut dipinggiran
geladak, menghitug banyaknya ombak datang mendekat, Diriku ada disampingmu seakan
mau mengganggu, saat sengaja ajak bicara kau memukul bahuku. Laut yang
sangatlah biru, menyerupai kasih sayang yang mengajari suatu arti dari
keabadian..
Nyanyian
singkat itu muncul dari bibir mungil Maura, masih terngiang dibenaknya kala ia
menyanyikan lagu itu bersama orang yang di sayanginya. Tapi saat ini, ia hanya
seorang diri meyanyikan lagu itu, lagu kesukaanya bersama Rafael. Lalu dimana
rafael sekarang? Entahlah, ia pergi tanpa kabar. Bahkan Maura juga tak peernah
tau kemana Rafael pergi.
..Maafkan
summer menyilaukan, saat tatap wajahmu dari samping. Dalam hatiku ingin
menyentuhmu lembut, keisenganku saja. Maafkan summer cinta ini, meskipun hanya
teman terasa sedih hanya angin laut yanng sejak dari dulu, bertiup menujumu,
maafkan summer..
Sedih
memang, Maura beranjak dari pantai lalu pulang kerumahnya. Malam ini telah ia
habiskan bersama bayangan Rafael, hanya bayangannya saja.
~Flash
back~
“Hai, sedang membuat istana pasir yah..?”
Tanya Maura pada Rafael. “ya, sebuah istana pasir yang megah” jawab Maura.
Sibuk sekali ia, tampak dari keringat yang mengucur lewat pelipisnya. “Minuman
untukmu, kupikir kau sedang haus..” Rafael berArgumen. “Sepertinya tebakan mu
sangat tepat, aku memang sedang haus, terima kasih ya.?” Maura mulai meneguk minuman
yang diberikan oleh kekasihnya itu. Tak
lama setelah itu, pantai itu diguyur oleh rintik hujan yang semakin lama lantas
semakin deras. “hujan.. yyeeeaaayyyy....” teriak Maura kegirangan. “ayo
berteduh, nanti kita basah kuyup Maura..” suruh Rafael. “tidak, justru ini yang
ku inginkan, bermain hujan bersamamu.” Ujar Maura tersenyum manis. “aku tak
ingin mandi hujan Maura, nanti sakit pilekmu kambuh..” terang Rafael agar maura
mau menuruti permintaannya untuk berteduh. Tapi mengapa Maura hanya tersenyum..?
sejenak Maura mulai berdiri. Rafael mengira Maura akan berteduh, tapi justru
tidak, Maura mulai berlari di tengah rintik hujan. “aku akan berteduh jika kau
berhasil menangkapku, Rafael.. ayo kejar aku..” teriak Maura. “ayolah Maura,
jangan menyiksa dirimu seperti ini.” Nasehat Rafael seperti tak di pedulikan
oleh Maura. Maura terus berlari, tak peduli dengan teriakan Rafael, Maura
akhirnya terjatuh. “ahws, aduh, kakiku sakit.. Rafael, tolong aku..” teriak
Maura memanggil kekasihnya. Lalu dengan telaten, Rafael membalut luka di lutut
Maura.
~Ending flashback~
Rafael sudah lama tak ada kabar darinya.
Kemana lagi Maura harus mencarinya..?. pagi menjelang, tibalah maura di kampus
WidyaTama. Kampus dimana ia menimba ilmu, tentunya bersama Gisha dan Rafael.
Namun kini Rafael tak lagi bersamanya. “sudahlah Maura, jangan bersedih terus,
kau hanya akan memperburuk keadaan saja.” Bujuk Gisha pada sahabatnya itu. “aku
hanya merindukannya sha, kenap dia pergi? Apa aku punya kesalahan fatal
padanya? Aku dilema, sangat dilema. Dan disaat seperti ini aku butuh dia,
sedangkan dia? Aku tak tau dia dimana. Aku sangat merindukannya.” Lirih Maura
benar-benar lirih. “aku mengerti, sangat mengerti. Aku tau bagaimana perasaanmu
saat ini. Kau hanya butuh move on” sambung Gisha memberi solusi. “tidak, aku
takkan move on, aku akan menunggu dia kembali, karena aku yakin dia akan
kembali untukku.” Tolak Maura.
...hancur
hatiku, mengenang dikau, menjadi keping-keping setelah kau pergi, tinggal kan
kasih sayang yang pernah singgah antara kita masihkah ada
sayang itu..?...
“Aku akan menunggumu rafael, menunggu
sampai kau kembali lagi, aku masih percaya kalau hatimu masih untukku, aku
yakin dihatimu masih ada aku, seperti aku yang selalu merindukanmu kumohon
kembalilah raf, untukku. Karena aku mencintaimu dan Karena Cinta Takkan Salah”
Karya Seri Yani
Terima
kasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar