Kamis, 22 Mei 2014

Karena Cinta Tak Kan Salah ~ Cerpen


        Siang itu, Maura sedang duduk di pinggiran geladak bersama dengan sahabatnya, Gisha. Mereka berdua sedang termenung bersama. Entah apa yang ada di pikiran mereka berdua, tapi yang jelas, mereka sibuk berkutik dengan pikiran mereka masing-masing. Tak lama waktu beselang, Gisha memecah keheningan dan membuka pembicaraan. “Maura, sudah dari tadi kita berada disini, sebaiknya kita pulang saja yuk,  lagipula, hari hampir malam..” Gisha mulai bosan, ia lalu mengajak maura untuk pulang karena hari memang hampir malam. “Tidak Gisha, aku ingin tetap disini, aku tak ingin pulang, aku masih betah. Jika kau ingin pulang, pulang sajalah dulu. Aku akan baik-baik saja..” Maura menolak ajakan Gisha, bagaimana mungkin ia meninggalkan sahabatnya sendirian disini?. “ayolah maura, aku tak mungkin meninggalkanmu disini, lagipula kalau aku meninggalkanmu disini, aku akan dimarahi bundamu..”   bujuk Gisha agar maura mau pulang besamanya. Tapi sepertinya maura tak mau pulang, ia masih kekeuh ingin tinggal lebih lama di hamparan pasir putih ini. “tak apa gisha, bundaku tak akan marah padamu.” Maura  mungkin sedang ingin sendiri. Ia ingin merasakan damainya ombak malam memecah sunyi. “Baiklah, aku pulang dulu, jangan terlalu lama disini maura, angin malam tak baik untuk kesehatanmu.” Gisha sedikit menasehati Maura. Memang begitulah Gisha, ia adalah sahabat yang paling mengerti Maura .

 ..Dirimu duduk memeluk lutut dipinggiran geladak, menghitug banyaknya ombak datang mendekat, Diriku ada disampingmu seakan mau mengganggu, saat sengaja ajak bicara kau memukul bahuku. Laut yang sangatlah biru, menyerupai kasih sayang yang mengajari suatu arti dari keabadian..

Nyanyian singkat itu muncul dari bibir mungil Maura, masih terngiang dibenaknya kala ia menyanyikan lagu itu bersama orang yang di sayanginya. Tapi saat ini, ia hanya seorang diri meyanyikan lagu itu, lagu kesukaanya bersama Rafael. Lalu dimana rafael sekarang? Entahlah, ia pergi tanpa kabar. Bahkan Maura juga tak peernah tau kemana Rafael pergi.

            ..Maafkan summer menyilaukan, saat tatap wajahmu dari samping. Dalam hatiku ingin menyentuhmu lembut, keisenganku saja. Maafkan summer cinta ini, meskipun hanya teman terasa sedih hanya angin laut yanng sejak dari dulu, bertiup menujumu, maafkan summer..

Sedih memang, Maura beranjak dari pantai lalu pulang kerumahnya. Malam ini telah ia habiskan bersama bayangan Rafael, hanya bayangannya saja.

~Flash back~
“Hai, sedang membuat istana pasir yah..?” Tanya Maura pada Rafael. “ya, sebuah istana pasir yang megah” jawab Maura. Sibuk sekali ia, tampak dari keringat yang mengucur lewat pelipisnya. “Minuman untukmu, kupikir kau sedang haus..” Rafael berArgumen. “Sepertinya tebakan mu sangat tepat, aku memang sedang haus, terima kasih ya.?” Maura mulai meneguk minuman yang diberikan oleh kekasihnya itu.  Tak lama setelah itu, pantai itu diguyur oleh rintik hujan yang semakin lama lantas semakin deras. “hujan.. yyeeeaaayyyy....” teriak Maura kegirangan. “ayo berteduh, nanti kita basah kuyup Maura..” suruh Rafael. “tidak, justru ini yang ku inginkan, bermain hujan bersamamu.” Ujar Maura tersenyum manis. “aku tak ingin mandi hujan Maura, nanti sakit pilekmu kambuh..” terang Rafael agar maura mau menuruti permintaannya untuk berteduh. Tapi mengapa Maura hanya tersenyum..? sejenak Maura mulai berdiri. Rafael mengira Maura akan berteduh, tapi justru tidak, Maura mulai berlari di tengah rintik hujan. “aku akan berteduh jika kau berhasil menangkapku, Rafael.. ayo kejar aku..” teriak Maura. “ayolah Maura, jangan menyiksa dirimu seperti ini.” Nasehat Rafael seperti tak di pedulikan oleh Maura. Maura terus berlari, tak peduli dengan teriakan Rafael, Maura akhirnya terjatuh. “ahws, aduh, kakiku sakit.. Rafael, tolong aku..” teriak Maura memanggil kekasihnya. Lalu dengan telaten, Rafael membalut luka di lutut Maura.
~Ending flashback~
Rafael sudah lama tak ada kabar darinya. Kemana lagi Maura harus mencarinya..?. pagi menjelang, tibalah maura di kampus WidyaTama. Kampus dimana ia menimba ilmu, tentunya bersama Gisha dan Rafael. Namun kini Rafael tak lagi bersamanya. “sudahlah Maura, jangan bersedih terus, kau hanya akan memperburuk keadaan saja.” Bujuk Gisha pada sahabatnya itu. “aku hanya merindukannya sha, kenap dia pergi? Apa aku punya kesalahan fatal padanya? Aku dilema, sangat dilema. Dan disaat seperti ini aku butuh dia, sedangkan dia? Aku tak tau dia dimana. Aku sangat merindukannya.” Lirih Maura benar-benar lirih. “aku mengerti, sangat mengerti. Aku tau bagaimana perasaanmu saat ini. Kau hanya butuh move on” sambung Gisha memberi solusi. “tidak, aku takkan move on, aku akan menunggu dia kembali, karena aku yakin dia akan kembali untukku.” Tolak Maura.
...hancur hatiku, mengenang dikau, menjadi keping-keping setelah kau pergi, tinggal kan kasih sayang yang pernah singgah antara kita masihkah ada sayang itu..?...

“Aku akan menunggumu rafael, menunggu sampai kau kembali lagi, aku masih percaya kalau hatimu masih untukku, aku yakin dihatimu masih ada aku, seperti aku yang selalu merindukanmu kumohon kembalilah raf, untukku. Karena aku mencintaimu dan Karena Cinta Takkan Salah”

Karya Seri Yani

Terima kasih


                                                                     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar