Hari yang cerah bagi semua orang di kampus
Widyatama, termasuk bagi gadis lugu yang
satu ini. Mungkin kalian bertanya siapa gadis lugu itu bukan..? dia adalah
Chrisya Adenia. Dia adalah gadis yang lucu, unik dan menggemaskan. Pagi ini ia
membawa satu bucket bunga Mawar merah darah segar yang akan di berikannya pada
seorang pria.
“Selamat
pagi Dicky, pagi ini sungguh cerah bukan, terlihat secerah warna bunga ini. Bunga
mawar ini, khusus untukmu, Ku mohon terimalah..” gadis lugu itu menundukkan
kepalanya dihadapan pria pujaannya. Sedangkan pria itu? Hanya terdiam, dalam
arti tak menyukai gadis itu.
“Oh,
ayolah Chrisya, haruskah setiap pagi aku membuang bunga-bunga itu didepanmu.?
Aku tak punya banyak waktu bahkan untuk membalas sapaan basi yang setiap hari
kau ucapkan..” Dicky resah dengan perlakuan gadis itu, ia lalu mengambil bunga
itu dan menginjaknya sampai hancur, dan berlalu meninggalkan Chrisya yang masih
tetap mematung.
Chrisya
mendesah, lebih tepatnya kecewa. Bahkan bunga yang di beli olehnya dari hasil
ia menabung uang jajannya selama
sebulan, dicampakkan begitu saja oleh Dicky. Dimana letak hati pria itu..?
entahlah.
“Chrisya..!!
kau tahu? Hari ini adalah hari lollypop sedunia, jadi, aku akan memberikanmu sebuah
lollypop. Kau pasti menyukainya. Lolly ini susah sekali aku dapatkan, karna aku
ingat kau tak suka buah, makanya aku belikan untukmu lolly rasa Mint, kurasa
kau belum pernah mencobanya, cobalah, aku yakin kau pasti suka..!!” celoteh
panjang dari bibir mungil gadis ini tiba-tiba terhenti, sebab ia harus melihat
pemandangan kalau Chrisya, kawannya sedang bersedih.
“Kau
kenapa? Tak biasanya kau diam seperti ini. Apa kau mempunyai masalah? Aku tak
keberatan mendengarkan curhatanmu. Ceritalah.” Chika, gadis manis yang baik
hati ini sangat menyayangi Chrisya, sahabat dekatnya. Ia tak akan membiarkan
seorang pun menyakiti hati sahabatnya.
“Tak apa chika, aku sedikit tidak enak badan
hari ini, mungkin aku sedikit lelah dan maaf, biarkan aku sendiri” ucapan Chrisya
sangat lirih, ia sedang mencoba menahan air matanya yang hampir jatuh. Ia tak
ingin sahabatnya, Chika terlalu mengkhawatirkannya. Sedangkan Chika hanya
terkejut saat Chrisya secara tak langsung mengusirnya dari situ.
“Baiklah, jika kau butuh aku, hubungi aku..”
Chika berlalu meninggalkan Chrisya disana.
“Sampai
kapankah dia akan begini padaku? Aku juga berhak untuk rasa itu. Kenapa Dicky
membenciku?” Chrisya menangis sedu di belakang sekolah.
“Eh,
orang stres, mengapa kau menangis disini? Kau kurang pekerjaan?? Dasar wanita
aneh hahahaha” mereka menertawai Chrisya, mereka adalah Reza, Ilham, dan Bisma.
Chrisya hanya diam, ia menahan air
matanya agar tak terlihat lemah di hadapan teman-teman Dicky.
“Apa
kehadiran kalian disini hanya untuk mengejekku? Aku memang orang miskin tapi
aku juga punya hati..” ujar Chrisya lemah, tanpa menatap mereka sedikitpun.
“Kalau kau memang punya hati, kau harusnya
berfikir, kau sama sekali tak pantas untuk Dicky, lihatlah dirimu, sudah
miskin, jelek lagi. Aduuh, kau itu cocoknya jadi tukang semir sepatunya
Dicky..” ejek Ilham meremehkan Chrisya.
“Terimakasih
atas sarannya, tapi aku sama sekali tak berminat” balas Chrisya melangkahkan
kakinya beranjak dari situ.
Chrisya
masuk kekelasnya, lalu ia duduk di tempatnya, agak belakang dan dekat dengan
jendela. Ia memang tak duduk berdekatan dengan Chika, seorang sahabat tak harus
duduk bersebelahan bukan?. Chrisya duduk dan menatap jauh ke luar jendela.
Sedangkan Chika? Ia hanya menatap sendu sahabatnya. Ia tak tahu apa yang
menjadi gundah gulana hati kecil Chrisya. Dua jam telah berlalu, bell istirahat
berdering mengisyaratkan semua siswa untuk makan siang, mengisi perut yang
kosong setelah mengikuti Empat jam mata pelajaran.
“Kau
beruntung sekali Chik, kau kaya, cantik, baik. Tak sepertiku, jelek, miskin,
dan tak ada orang yang menyukaiku..” gumam Chrisya saat berada di padang rumput belakang sekolah
bersama dengan Chika.
“Kau jangan berpikir begitu, kau masih punya
orang tua yang selalu ada buatmu, sedangkan aku? Mereka hanya mengirimkan aku
uang yang banyak, tanpa peduli bagaimana perasaanku, aku membutuhkan kasih
sayang mereka, bukan uang yang banyak..” ujar Chika menunduk.
Dua
bulan telah berlalu, kini persahabatan Chrisya dan Chika tampaknya tak seperti dulu
lagi. Dulu mereka berdua sangat kompak, kemana-mana selalu bersama, namun kini
waktu Chika untuk bermain bersama Chrisya tak lagi seperti dulu. Chrisya
memutuskan untuk pergi ke sebuah danau sendirian tanpa di temani oleh Chika.
Awalnya, ia ingin menunjukkan danau yang indah itu pada Chika, tapi kenyataan
berkata lain. Chrisya melihat Chika dan Dicky sedang saling merangkul di danau
tersebut.
“Kupikir
kau sibuk mengurusi kedatangan orang tuamu dari Jepang, rupanya kau disini,
bersama Dicky, selamat, kalian pasangan yang serasi,” Chrisya patah hati, ia
tak sanggup untuk menangisi semua ini, ia memutuskan untuk pulang kerumahnya.
Ternyata Dicky dan Chika mengejarnya, tiba-tiba tak sengaja seekor kucing lewat
di jalan itu. Dicky membanting stir ke kiri dan kecelakaan tak dapat terhindar.
Chika
mengalami pendarahan di kepalanya, sedangkan Dicky, mengalami benturan yang
keras di dadanya. Akhirnya ia membutuhkan donor jantung dan hati dari
seseorang. Seminggu, dua minggu, sebulan telah berlalu, masing-masing keadaan
Chika dan Dicky mulai memulih. Mereka berdua memutuskan untuk minta maaf pada
Chrisya. Tapi saat mereka ingin menuju rumah Chrisya, Reza memberikan sepucuk
surat dari Chrisya. Chika dan Dicky mulai membaca surat itu.
“Hai Chika.. apa
kabar? Semoga sehat ya.. Oh iya, aku kangen banget sama kamu, kamu kemana aja
selama ini? Kamu udah ga punya banyak waktu lagi buat aku. Oh iya, selamat yah,
kamu sama Dicky udah jadi pasangan serasi. Bahkan sangat serasi. Mulai hari ini
dan untuk seterusnya, aku tak akan pernah lagi hadir dalam hidup kalian.
Bukannya aku marah, tapi takdir berkata lain. Di tubuhmu, kini telah mengalir
darahku, aku memberikanmu darah itu karena aku tahu keadaanmu sangat kritis
saat itu. Dan untuk Dicky, jaga baik-baik hati dan jantungmu yah.. jantung dan
hatiku, kini telah menjadi milikmu, aku tak menyesal, karena tak bisa
mendapatkan hatimu, tapi aku sangat senang bahwa aku dapat memberikannya
untukmu dan menyelamatkan nyawamu. Mungkin, ini pengorbananku untuk kalian,
untuk orang-orang yang sangat aku sayangi dan aku cintai. aku sama sekali tak
keberatan, aku bahagia jika kalian bahagia. Terenyumlah untukku, maka aku juga
akan ikut tersenyum. Selamat tinggal.
Dari
orang yang menyayangi kalian
Chrisya”
Penyesalan memang
selalu datang belakangan, orang yang sangat kita benci bahkan mungkin sangat
menyayangi kita. Jangan membenci orang yang selalu mmemperhatikanmu, karna kau
belum tahu apa tujuan sebenarnya ketika ia peduli padamu.
END
Karya Seri Yani
Terima Kasih