Kamis, 22 Mei 2014

Matahari Senja ~ Puisi

Matahari Senja

Apa kabar Matahari senja?
Kabarku sedikit tidak baik,
Atau mungkin memang tidak baik
Disini seolah aku bukanlah siapa-siapa
Diantara matahari dan pelangi,
Mungkin akulah langit mendungnya..
Mendung yang selalu
Mengganggu hubungan pelangi dengan matahari
           
Apa salahku wahai matahari senja?
            Tolong katakan,
            Mengapa aku yang selalu tersakiti?
            Harus berapa kali aku dimaki,
            Dengan kesalahan yang tak pernah kulakukan?
            Harus sampai kapan aku bertahan?
            Bertahan dari siksaan yang menyakitkan..

Sungguh!
Ini terlalu rumit untuk dimengerti
Mengapa selalu aku yang salah?
Dan mengapa selalu dia yang dibela?
Ini tak adil!
Sungguh tak adil..! Aku ingin keluar dari kesengsaraan ini
Tapi bagaimana?
Aku tak bisa melakukannya
Kuharap tuhan memang tak pernah tidur
Hingga akhirnya langit mendung itu,
Akan menjadi cerah,
Secerah senyumku..

Karya Seri Yani

Terima Kasih

Karena Cinta Tak Kan Salah ~ Cerpen


        Siang itu, Maura sedang duduk di pinggiran geladak bersama dengan sahabatnya, Gisha. Mereka berdua sedang termenung bersama. Entah apa yang ada di pikiran mereka berdua, tapi yang jelas, mereka sibuk berkutik dengan pikiran mereka masing-masing. Tak lama waktu beselang, Gisha memecah keheningan dan membuka pembicaraan. “Maura, sudah dari tadi kita berada disini, sebaiknya kita pulang saja yuk,  lagipula, hari hampir malam..” Gisha mulai bosan, ia lalu mengajak maura untuk pulang karena hari memang hampir malam. “Tidak Gisha, aku ingin tetap disini, aku tak ingin pulang, aku masih betah. Jika kau ingin pulang, pulang sajalah dulu. Aku akan baik-baik saja..” Maura menolak ajakan Gisha, bagaimana mungkin ia meninggalkan sahabatnya sendirian disini?. “ayolah maura, aku tak mungkin meninggalkanmu disini, lagipula kalau aku meninggalkanmu disini, aku akan dimarahi bundamu..”   bujuk Gisha agar maura mau pulang besamanya. Tapi sepertinya maura tak mau pulang, ia masih kekeuh ingin tinggal lebih lama di hamparan pasir putih ini. “tak apa gisha, bundaku tak akan marah padamu.” Maura  mungkin sedang ingin sendiri. Ia ingin merasakan damainya ombak malam memecah sunyi. “Baiklah, aku pulang dulu, jangan terlalu lama disini maura, angin malam tak baik untuk kesehatanmu.” Gisha sedikit menasehati Maura. Memang begitulah Gisha, ia adalah sahabat yang paling mengerti Maura .

 ..Dirimu duduk memeluk lutut dipinggiran geladak, menghitug banyaknya ombak datang mendekat, Diriku ada disampingmu seakan mau mengganggu, saat sengaja ajak bicara kau memukul bahuku. Laut yang sangatlah biru, menyerupai kasih sayang yang mengajari suatu arti dari keabadian..

Nyanyian singkat itu muncul dari bibir mungil Maura, masih terngiang dibenaknya kala ia menyanyikan lagu itu bersama orang yang di sayanginya. Tapi saat ini, ia hanya seorang diri meyanyikan lagu itu, lagu kesukaanya bersama Rafael. Lalu dimana rafael sekarang? Entahlah, ia pergi tanpa kabar. Bahkan Maura juga tak peernah tau kemana Rafael pergi.

            ..Maafkan summer menyilaukan, saat tatap wajahmu dari samping. Dalam hatiku ingin menyentuhmu lembut, keisenganku saja. Maafkan summer cinta ini, meskipun hanya teman terasa sedih hanya angin laut yanng sejak dari dulu, bertiup menujumu, maafkan summer..

Sedih memang, Maura beranjak dari pantai lalu pulang kerumahnya. Malam ini telah ia habiskan bersama bayangan Rafael, hanya bayangannya saja.

~Flash back~
“Hai, sedang membuat istana pasir yah..?” Tanya Maura pada Rafael. “ya, sebuah istana pasir yang megah” jawab Maura. Sibuk sekali ia, tampak dari keringat yang mengucur lewat pelipisnya. “Minuman untukmu, kupikir kau sedang haus..” Rafael berArgumen. “Sepertinya tebakan mu sangat tepat, aku memang sedang haus, terima kasih ya.?” Maura mulai meneguk minuman yang diberikan oleh kekasihnya itu.  Tak lama setelah itu, pantai itu diguyur oleh rintik hujan yang semakin lama lantas semakin deras. “hujan.. yyeeeaaayyyy....” teriak Maura kegirangan. “ayo berteduh, nanti kita basah kuyup Maura..” suruh Rafael. “tidak, justru ini yang ku inginkan, bermain hujan bersamamu.” Ujar Maura tersenyum manis. “aku tak ingin mandi hujan Maura, nanti sakit pilekmu kambuh..” terang Rafael agar maura mau menuruti permintaannya untuk berteduh. Tapi mengapa Maura hanya tersenyum..? sejenak Maura mulai berdiri. Rafael mengira Maura akan berteduh, tapi justru tidak, Maura mulai berlari di tengah rintik hujan. “aku akan berteduh jika kau berhasil menangkapku, Rafael.. ayo kejar aku..” teriak Maura. “ayolah Maura, jangan menyiksa dirimu seperti ini.” Nasehat Rafael seperti tak di pedulikan oleh Maura. Maura terus berlari, tak peduli dengan teriakan Rafael, Maura akhirnya terjatuh. “ahws, aduh, kakiku sakit.. Rafael, tolong aku..” teriak Maura memanggil kekasihnya. Lalu dengan telaten, Rafael membalut luka di lutut Maura.
~Ending flashback~
Rafael sudah lama tak ada kabar darinya. Kemana lagi Maura harus mencarinya..?. pagi menjelang, tibalah maura di kampus WidyaTama. Kampus dimana ia menimba ilmu, tentunya bersama Gisha dan Rafael. Namun kini Rafael tak lagi bersamanya. “sudahlah Maura, jangan bersedih terus, kau hanya akan memperburuk keadaan saja.” Bujuk Gisha pada sahabatnya itu. “aku hanya merindukannya sha, kenap dia pergi? Apa aku punya kesalahan fatal padanya? Aku dilema, sangat dilema. Dan disaat seperti ini aku butuh dia, sedangkan dia? Aku tak tau dia dimana. Aku sangat merindukannya.” Lirih Maura benar-benar lirih. “aku mengerti, sangat mengerti. Aku tau bagaimana perasaanmu saat ini. Kau hanya butuh move on” sambung Gisha memberi solusi. “tidak, aku takkan move on, aku akan menunggu dia kembali, karena aku yakin dia akan kembali untukku.” Tolak Maura.
...hancur hatiku, mengenang dikau, menjadi keping-keping setelah kau pergi, tinggal kan kasih sayang yang pernah singgah antara kita masihkah ada sayang itu..?...

“Aku akan menunggumu rafael, menunggu sampai kau kembali lagi, aku masih percaya kalau hatimu masih untukku, aku yakin dihatimu masih ada aku, seperti aku yang selalu merindukanmu kumohon kembalilah raf, untukku. Karena aku mencintaimu dan Karena Cinta Takkan Salah”

Karya Seri Yani

Terima kasih


                                                                     

Cinta yang Gugur ~ Cerpen


                  Hari yang cerah bagi semua orang di kampus Widyatama, termasuk bagi  gadis lugu yang satu ini. Mungkin kalian bertanya siapa gadis lugu itu bukan..? dia adalah Chrisya Adenia. Dia adalah gadis yang lucu, unik dan menggemaskan. Pagi ini ia membawa satu bucket bunga Mawar merah darah segar yang akan di berikannya pada seorang pria.
“Selamat pagi Dicky, pagi ini sungguh cerah bukan, terlihat secerah warna bunga ini. Bunga mawar ini, khusus untukmu, Ku mohon terimalah..” gadis lugu itu menundukkan kepalanya dihadapan pria pujaannya. Sedangkan pria itu? Hanya terdiam, dalam arti tak menyukai gadis itu.
“Oh, ayolah Chrisya, haruskah setiap pagi aku membuang bunga-bunga itu didepanmu.? Aku tak punya banyak waktu bahkan untuk membalas sapaan basi yang setiap hari kau ucapkan..” Dicky resah dengan perlakuan gadis itu, ia lalu mengambil bunga itu dan menginjaknya sampai hancur, dan berlalu meninggalkan Chrisya yang masih tetap mematung.
Chrisya mendesah, lebih tepatnya kecewa. Bahkan bunga yang di beli olehnya dari hasil ia menabung uang  jajannya selama sebulan, dicampakkan begitu saja oleh Dicky. Dimana letak hati pria itu..? entahlah.
“Chrisya..!! kau tahu? Hari ini adalah hari lollypop sedunia, jadi, aku akan memberikanmu sebuah lollypop. Kau pasti menyukainya. Lolly ini susah sekali aku dapatkan, karna aku ingat kau tak suka buah, makanya aku belikan untukmu lolly rasa Mint, kurasa kau belum pernah mencobanya, cobalah, aku yakin kau pasti suka..!!” celoteh panjang dari bibir mungil gadis ini tiba-tiba terhenti, sebab ia harus melihat pemandangan kalau Chrisya, kawannya sedang bersedih.
“Kau kenapa? Tak biasanya kau diam seperti  ini. Apa kau mempunyai masalah? Aku tak keberatan mendengarkan curhatanmu. Ceritalah.” Chika, gadis manis yang baik hati ini sangat menyayangi Chrisya, sahabat dekatnya. Ia tak akan membiarkan seorang pun menyakiti hati sahabatnya.
 “Tak apa chika, aku sedikit tidak enak badan hari ini, mungkin aku sedikit lelah dan maaf, biarkan aku sendiri” ucapan Chrisya sangat lirih, ia sedang mencoba menahan air matanya yang hampir jatuh. Ia tak ingin sahabatnya, Chika terlalu mengkhawatirkannya. Sedangkan Chika hanya terkejut saat Chrisya secara tak langsung mengusirnya dari situ.
 “Baiklah, jika kau butuh aku, hubungi aku..” Chika berlalu meninggalkan Chrisya disana.
“Sampai kapankah dia akan begini padaku? Aku juga berhak untuk rasa itu. Kenapa Dicky membenciku?” Chrisya menangis sedu di belakang sekolah. 
“Eh, orang stres, mengapa kau menangis disini? Kau kurang pekerjaan?? Dasar wanita aneh hahahaha” mereka menertawai Chrisya, mereka adalah Reza, Ilham, dan Bisma.  Chrisya hanya diam, ia menahan air matanya agar tak terlihat lemah di hadapan teman-teman Dicky.
“Apa kehadiran kalian disini hanya untuk mengejekku? Aku memang orang miskin tapi aku juga punya hati..” ujar Chrisya lemah, tanpa menatap mereka sedikitpun.
 “Kalau kau memang punya hati, kau harusnya berfikir, kau sama sekali tak pantas untuk Dicky, lihatlah dirimu, sudah miskin, jelek lagi. Aduuh, kau itu cocoknya jadi tukang semir sepatunya Dicky..” ejek Ilham meremehkan Chrisya.
“Terimakasih atas sarannya, tapi aku sama sekali tak berminat” balas Chrisya melangkahkan kakinya beranjak dari situ.

Chrisya masuk kekelasnya, lalu ia duduk di tempatnya, agak belakang dan dekat dengan jendela. Ia memang tak duduk berdekatan dengan Chika, seorang sahabat tak harus duduk bersebelahan bukan?. Chrisya duduk dan menatap jauh ke luar jendela. Sedangkan Chika? Ia hanya menatap sendu sahabatnya. Ia tak tahu apa yang menjadi gundah gulana hati kecil Chrisya. Dua jam telah berlalu, bell istirahat berdering mengisyaratkan semua siswa untuk makan siang, mengisi perut yang kosong setelah mengikuti Empat jam mata pelajaran.
“Kau beruntung sekali Chik, kau kaya, cantik, baik. Tak sepertiku, jelek, miskin, dan tak ada orang yang menyukaiku..” gumam Chrisya  saat berada di padang rumput belakang sekolah bersama dengan Chika.
 “Kau jangan berpikir begitu, kau masih punya orang tua yang selalu ada buatmu, sedangkan aku? Mereka hanya mengirimkan aku uang yang banyak, tanpa peduli bagaimana perasaanku, aku membutuhkan kasih sayang mereka, bukan uang yang banyak..” ujar Chika menunduk.
Dua bulan telah berlalu, kini persahabatan Chrisya dan Chika tampaknya tak seperti dulu lagi. Dulu mereka berdua sangat kompak, kemana-mana selalu bersama, namun kini waktu Chika untuk bermain bersama Chrisya tak lagi seperti dulu. Chrisya memutuskan untuk pergi ke sebuah danau sendirian tanpa di temani oleh Chika. Awalnya, ia ingin menunjukkan danau yang indah itu pada Chika, tapi kenyataan berkata lain. Chrisya melihat Chika dan Dicky sedang saling merangkul di danau tersebut.
“Kupikir kau sibuk mengurusi kedatangan orang tuamu dari Jepang, rupanya kau disini, bersama Dicky, selamat, kalian pasangan yang serasi,” Chrisya patah hati, ia tak sanggup untuk menangisi semua ini, ia memutuskan untuk pulang kerumahnya. Ternyata Dicky dan Chika mengejarnya, tiba-tiba tak sengaja seekor kucing lewat di jalan itu. Dicky membanting stir ke kiri dan kecelakaan tak dapat terhindar.
Chika mengalami pendarahan di kepalanya, sedangkan Dicky, mengalami benturan yang keras di dadanya. Akhirnya ia membutuhkan donor jantung dan hati dari seseorang. Seminggu, dua minggu, sebulan telah berlalu, masing-masing keadaan Chika dan Dicky mulai memulih. Mereka berdua memutuskan untuk minta maaf pada Chrisya. Tapi saat mereka ingin menuju rumah Chrisya, Reza memberikan sepucuk surat dari Chrisya. Chika dan Dicky mulai membaca surat itu.

“Hai Chika..  apa kabar? Semoga sehat ya.. Oh iya, aku kangen banget sama kamu, kamu kemana aja selama ini? Kamu udah ga punya banyak waktu lagi buat aku. Oh iya, selamat yah, kamu sama Dicky udah jadi pasangan serasi. Bahkan sangat serasi. Mulai hari ini dan untuk seterusnya, aku tak akan pernah lagi hadir dalam hidup kalian. Bukannya aku marah, tapi takdir berkata lain. Di tubuhmu, kini telah mengalir darahku, aku memberikanmu darah itu karena aku tahu keadaanmu sangat kritis saat itu. Dan untuk Dicky, jaga baik-baik hati dan jantungmu yah.. jantung dan hatiku, kini telah menjadi milikmu, aku tak menyesal, karena tak bisa mendapatkan hatimu, tapi aku sangat senang bahwa aku dapat memberikannya untukmu dan menyelamatkan nyawamu. Mungkin, ini pengorbananku untuk kalian, untuk orang-orang yang sangat aku sayangi dan aku cintai. aku sama sekali tak keberatan, aku bahagia jika kalian bahagia. Terenyumlah untukku, maka aku juga akan ikut tersenyum. Selamat tinggal.
                                                Dari orang yang menyayangi kalian
                                                            Chrisya”

Penyesalan memang selalu datang belakangan, orang yang sangat kita benci bahkan mungkin sangat menyayangi kita. Jangan membenci orang yang selalu mmemperhatikanmu, karna kau belum tahu apa tujuan sebenarnya ketika ia peduli padamu.

END
Karya Seri Yani
Terima Kasih