Tahu Diri (cerpen)
Larik-larik cahaya senja mulai memancarkan sinar
jingganya, Kelelawarpun mulai terjaga hendak segera mencari sesantap makanan
untuk mengisi perutnya juga anak-anaknya. Aku
Zefanya Anastasya, panggil aku Fanya, aku belum juga beranjak dari sini
menatap matahari tenggelam di ujung lautan ini.
“Apa ini jalan yang terbaik? Kurasa begitu, aku harus
melupakannya.. tapi apa aku bisa?” gumam kecil ku menatap Sunset yang mulai
tenggelam di ujung lautan. Saat gelap mulai menjelang, aku meninggalkan Pantai
itu, memutuskan hendak pulang ke kamarku. Ya, saat ini aku sedang mengikuti
Study Tour ke Bali, tentunya orang yang sedang aku gundahkan juga ikut karena ia
memang satu kelas denganku, dialah Bisma.
Seseorang yang pernah hadir dalam hatiku, memutuskan
untuk pergi dengan yang lain, meninggalkan rasaku yang tulus untuk dirinya.
Saat di lorong Hotel itu, aku berpapasan dengannya, dia tak seperti yang
kubayangkan, dia telah berubah, karena tak ada lagi yang menasehati dirinya
ketika aku berlalu dari hatinya. Bisma tampak lebih dingin dari biasanya, dan
sama sekali tak melirik ke arahku walaupun hanya sekedar menyapa untuk
berbasa-basi. Baru kuingat, dia memang tak suka berbasa-basi. Aku berhenti
sejenak ketika telah melewatinya, kulihat punggungnya yang terus menjauh, lalu
kulagkahkan kakiku kembali.
Aku tahu, saat aku mulai melangkahkan kakiku dia juga
berhenti sejenak. Aku juga tak tahu untuk apa, mungkin ada benda miliknya yang
terjatuh. Saat sampai di kamar, kubuka Laptopku memandangi Dekstop Bagroundnnya
yang menggambarkan diriku bersamanya. Sama sekali belum kuganti, lalu membuka
file-file fotoku bersamanya, belum lamafoto ini di ambil sebelum ia memutuskan
diriku dan bermaksud untuk mengakhiri hubungan ini, sekitar Dua Minggu yang
Lalu.
“Kau tak lagi seperti dulu Bisma, kau sudah berubah
cukup jauh, setelah kita berpisah dan kau memiliki hati Intan, kuharap kau
dapat berbahagia dengannya, seperti cinta kita, Dulu..” tak tertahankan Rasa
Rindu yang bergejolak dihatiku, aku tak bisa membuang rasa ini, izinkan aku
menyelipkan rasa ini diantara serpihan hati yang rapuh ini.
Besok adalah hari terakhir kami di Bali, aku ingin
cepat-cepat pulang, aku tak ingin bertemu dengannya karena bagiku, bertemu
dengannya sama saja aku menyakiti perasaanku sendiri, kala melihat kebersamaan
Bisma dengan Intan, pilihan hatinya. Intanlah yang menjadi alasan mengapa Bisma
memutuskan hubungan ini, dia begitu menyukai Intan, dan memutuskan untuk pergi
dari hatiku. Ku tutup mataku dengan perlahan mulai menjelajahi mimpi indah yang
inginku lalui, tanpa Bisma Karisma.
“Aku menyayangimu..!!” Bisma berteriak dari kejauhan
dan berlari kearahku sambil menenteng seikat Bunga Ajisai kesukaanku. “Aku juga
menyayangimu, Bisma...” teriakku membalasnya. Saat sudah dekat, kurentangkan
tanganku bermaksud untuk memeluknya, tapi apa yang terjadi? Dia melewatiku dan
berlari kearah gadis yang ada di belakangku, lalu memeluknya erat. Aku
menyaksikannya dengan dada yang sesak, gadis itu adalah Intan, gadis yang
dicintai Bisma saat ini. Aku menangis, menitihkan air mata di tempatku berdiri
seiring datangnya hujan, langitpun ikut merasakannya.Air mataku terseka hujan,
tak ada yang tahu jikalau aku sedang menangis, menangisi hati kecil yang tak
mampu berkata. Aku terbangun, mimpi buruk yang sangat menyakitkan.
Semua siswa telah berkumpul di ruang musik, hari ini
adalah hari pengambilan nilai olah Vokal, semua siswa tentunya akan membawakan
lagu sesuai dengan hatinya, aku juga akan melakukan hal yang sama. “Lagu ini
akan aku persembahkan untuk orang yang paling aku sayang, Intan” Bisma mulai menyanyikan
lagu yang sesuai dengan hatinya. Saat kulirik Intan, dia sedang tersenyum
renyah, mendengarkan kekasihnya menyanyikan sebuah lagu untuknya.
Akhirnya kutemukan yang selama ini kucari
Kamulah yang ku mau menemani hariku slalu
Hilang semua sedih hati, denganmu kurasakan cinta..
Kamulah bunga dari tidurku
Mimpi-mimpi indahku selalu tentang kamu always been
you
Kamulah, bintang-bintang hatiku akan kujaga slalu
Selalu tentang kamu..
Tak kusangka semua terjadi dengan nyata
Kusambut terang karena kau telah datang sayang
Tenanglah dirimu takkan ku sia-siakan
I’ve be waiting so long
For you to hear this ove song..
Kamulah yang ku mau, menemani hariku slalu, slalu
Hilang semua sedih hati denganmu kurasakan cinta
Girl you are mine in my heart in my soul
Haven knews I love you so..
Kamulah bunga dari tidurku
Mimpi-mimpi indahku selalu tentang kamu always been
you
Kamulah, bintang-bintang hatiku akan kujaga slalu
Selalu tentang kamu..
Apapun yang kan terjadi kukan selalu jadi milikmu
So this is my heart, this is my soul
I will be here forever..
Kamulah bunga dari tidurku
Mimpi-mimpi indahku selalu tentang kamu always been
you
Kamulah, bintang-bintang hatiku akan kujaga slalu
Selalu tentang kamu..
All that I have for you, all that I need is you.. is
you..
Lagu yang sangat indah, terbayang olehku saat bisma
menyanyikannya untukku, tapi lagu itu bukan menjadi milikku lagi, melainkan
untuk Intan, pujaan hatinya saat ini. Semua teman-teman sekelasku menyanyikan
lagu tentang cinta dan kasih sayang, kini tibalah saatnya aku yang bernyanyi.
“Zefanya Anastasya. Giliranmu Nak..” aku lah siswa
terakhir yang akan bernyanyi hari ini, karrena namaku berawal dari Huruf Z. Aku
lekas berdiri, menenteng sebuah gitar putih, kado pemberian Bisma saat aku
berulang tahun, tahun lalu. Sebenarnya aku juga tak pandai bermain gitar,
satu-satunya guru gitarku dulu adalah Bisma. “Lagu ini, berkaitan dengan
kondisi hati ku saat ini, selamat mendengarkan..”
Hai, selamat bertemu lagi, aku sudah lama
menghindarimu
Sial ku lah kau ada disini
Sungguh tak mudah bagiku, rasanya tak ingin bernafas
lagi
Tegak berdiri, didepanmu kini..
Sakitnya menusuki jantung ini
Melawan cinta yang ada dihati
Dan upayaku tahu diri, tak selamanya berhasil
Pabila kau muncul terus begini tanpa pernah
Kita bisa bersama, pergilah..
Menghilang sajalah lagi..
Bye, selamat berpisah lagi, meski masih ingin
memandangimu
Lebih baik kau tiada disini
Sungguh tak mudah bagiku, menghentikan sgala khayalan
gila
Jika kau ada dan ku Cuma bisa..
Meradang menjadi yang disisimu
Membenci nasibku yang tek berubah
Dan upayaku tahu diri tak selamanya berhasil
Pabila kau muncul terus begini tanpa pernah
Kita bisa bersama, pergilah..
Menghilang sajalah lagi..
Berkali-kali kau berkata kau cinta tapi tak bisa
Berkali-kali ku tlah berjanji menyerah..
Dan upayaku tahu diri tak slamanya berhasil..
Dan upayaku tahu diri tak slamanya berhasil
Pabila kau muncul terus begini tanpa pernah
Kita bisa bersama, pergilah..
Menghilang sajalah..
Pergilah, menghilang sajalah..
Pergilah, menghilang sajalah..
Lagi...
Semua yang ada didalam kelas memberikan aku tepuk
tangan yang meriah, aku tak tahu bagaimana suaraku, tapi yaang jelas, mereka
memberikanku tepuk tangan yang mengelu. Aku melirik sekejap kearah Bisma, dia
sama sekali tak memberikanku tepuk tangan, dia hanya diam tak bergeming.
Usai sudah pelajaran olah Vokal, aku kembali kekelas,
saat di koridor, seseorang menahan tanganku, aku berbalik dan ternyata aku
menemukan sosok Bisma didepan mataku. “Aku minta maaf..” ucapnya singkat
memandang lekat mataku. “Maaf? Untuk apa?” tanyaku tak percaya. “Aku tahu, lagu
tadi untukku bukan? Aku sadar aku salah, maafkan aku..” ucapnya lirih. “Kau tak
bersalah, kau mengambil keputusan yang baik, memilih Intan gadis cantik dan
baik untukmu. Aku sudah merelakanmu untuknya, karena aku sadar. Tuhqan tak
mempertemukan hambanya untuk selalu bisa bersama, mungkin pertemuan itu untuk
membuatku belajar darimu, selamat yah, kau dan Intan adalah pasangan yang
sangat serasi, permisi..” entah dari mana aku mendapatkan kata-kata itu, aku
mengucapknnya seperti pujangga yang sedang bersyair ria.
Sekali lagi, ia menahan tanganku pergi. “Maaf, bisa
lepaskan tanganku?” pintaku memandangnya. “Bisa kita berteman? Ataupun
bersahabat? Kita tak harus bermusuhan bukan?” tanyanya. Aku terdiam
sejenak.”Tentu” ucapku singkat kemudian berlalu meninggalkannya yang masih
tetap mematung disana.
Aku tak tahu bagaimana hariku kedepannya. Aku harus
sebisa mungkin menempatkan diriku sebagai seorang sahabat, dan aku cukup tahu
diri untuk hal itu..
End..
Karya Seri Yani
Terima Kasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar